Puasa Arafah, 9 Dzulhijjah dikaitkan dengan pelaksanaan Wukuf?

Puasa Arafah, Puasa 9 Dzulhijjah
Tak Harus Bersamaan Wukuf Dibuat : Oct 21st, 2011 07:30:58 (alamislam.com) – Sebagian kaum muslimin memahami bahwa pelaksanaan puasa Arafah mesti berbarengan dengan wukufnya jamaah haji di Arafah. Pemahaman ini benar dan berlaku bagi kaum muslimin yang berada di Mekkah dan sekitarnya yang tidak melaksanakan ibadah haji. Yang demikian itu karena wukuf di Arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah menurut rukyah hilal yang dilakukan oleh penduduk Mekkah. Sedangkan kaum muslimin yang berada di daerah yang jauh dari Mekkah, maka pendapat yang lebih kuat adalah melaksanakan puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah menurut rukyah hilal yang mereka lakukan di negeri mereka. Dasar pijakan kesimpulan ini adalah sebagai berikut: 1. Sejarah pensyariatan (tarikh tasyri’) puasa Arafah dan shalat Idul Adha. Puasa Arafah disyariatkan pada tahun kedua —ada juga riwayat yang menyebutkan tahun pertama— setelah hijrah bersamaan dengan disyariatkannya shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Adapun wukuf di Arafah sebagai bagian dari manasik haji, disyariatkan pada tahun keenam setelah hijrah. Maknanya, pada tahun kedua, ketiga, keempat, dan kelima setelah hijrah, Rasulullah saw dan para sahabat telah melaksanakan puasa Arafah tanpa ada seorang pun melaksanakan wukuf di Arafah. Saat disyariatkan, puasa Arafah tidak dikaitkan dengan peristiwa wukuf di Arafah. (Lihat: Zaadul Ma’ad, II/101, Fathul Bari, III/442; Hasyiyah Al-Jumal, VI/203; dan Subulus Salam, I/60) 2. Tiga Nama Puasa Arafah. Puasa Arafah disebut dalam hadits dengan beberapa nama, yaitu: a. Puasa Tis’a Dzuhijjah. ْﻦَﻋ ِﺾْﻌَﺑ ِﺝﺍَﻭْﺯَﺃ ِّﻰِﺒَّﻨﻟﺍ – ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻢﻠﺳﻭ – ْﺖَﻟﺎَﻗ : َﻥﺎَﻛ ُﻝْﻮُﺳَﺭ ِﻪَّﻠﻟﺍ – ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻢﻠﺳﻭ – ُﻡﻮُﺼَﻳ َﻊْﺴِﺗ ﻯِﺫ ِﺔَّﺠِﺤْﻟﺍ ، َﻡْﻮَﻳَﻭ ٍﺮْﻬَﺷ ِّﻞُﻛ ْﻦِﻣ ٍﻡﺎَّﻳَﺃ َﺔَﺛَﻼَﺛَﻭ َﺀﺍَﺭﻮُﺷﺎَﻋ Salah seorang istri Nabi saw. menyampaikan, “Rasulullah saw. biasa melaksanakan puasa pada hari kesembilan Dzulhijjah, hari ‘Asyura, dan tiga hari setiap bulan (tanggal 13, 14, dan l5 bulan hijriah).” (Sunan Abu Dawud, VI/418; Musnad Ahmad, hadits no. 21302 dan 25263; dan As- Sunan Al-Kubra lil Bayhaqi, IV/285) b. Puasa Al-’Asyru ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝْﻮُﺳَﺭ َّﻦُﻬُﻋَﺪَﻳ ْﻦُﻜَﻳ ْﻢَﻟ ٌﻊَﺑْﺭَﺃ َﺮْﺸَﻌْﻟﺍَﻭ َﺀﺍَﺭﻮُﺷﺎَﻋ َﻡﺎَﻴِﺻ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻞْﺒَﻗ ِﻦْﻴَﺘَﻌْﻛَّﺮﻟﺍَﻭ ٍﺮْﻬَﺷ ِّﻞُﻛ ْﻦِﻣ ٍﻡﺎَّﻳَﺃ َﺔَﺛﺎَﻠَﺛَﻭ ِﺓﺍَﺪَﻐْﻟﺍ “Empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah saw.: puasa ‘Asyura, puasa al-asyru (sepuluh hari awal Dzulhijjah)[1], puasa tiga hari setiap bulan dan shalat dua rakaat sebelum shalat Subuh.” (Musnad Ahmad, hadits no. 26521 dan Sunan An-Nasa’i, II/238) c. Puasa Arafah ْﻦَﻋ ﻲِﺑَﺃ َﺓَﺩﺎَﺘَﻗ ﻲﺿﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻨﻋ َﻞِﺌُﺳ ُﻝﻮُﺳَﺭ ِﻪَّﻠﻟَﺍ ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻢﻠﺳﻭ ْﻦَﻋ ِﻡْﻮَﺻ ِﻡْﻮَﻳ َﺔَﻓَﺮَﻋ . َﻝﺎَﻘَﻓ : ُﺮِّﻔَﻜُﻳ َﺔَﻨَّﺴﻟَﺍ َﺔَﻴِﺿﺎَﻤْﻟَﺍ َﺔَﻴِﻗﺎَﺒْﻟﺍَﻭ Abu Qatadah ra meriwayatkan bahwa Nabi saw pernah ditanya tentang puasa Arafah. Beliau menjawab, “Puasa Arafah menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (riwayat Muslim) Berdasarkan ketiga penamaan ini dapat dipahami bahwa puasa Arafah adalah puasa pada tanggal sembilan Dzulhijjah. Sebab jika puasa Arafah dikaitkan dengan peristiwa wukuf di Arafah, tentunya puasa pada hari itu tidak disebut dengan nama lain. 3. Fatwa Para Ulama a. Ibnu Taimiyyah berkata, “Hendaknya orang-orang melaksanakan puasa pada tanggal sembilan Dzulhijjah menurut kaum muslimin, meskipun sebenarnya itu adalah tanggal sepuluh Dzulhijjah.” (Majmu’ Fatawa, XXV/202) b. Ibnu Taimiyyah juga mengatakan, “Puasa pada hari yang diragukan, apakah itu tanggal sembilan ataukah sepuluh Dzulhijjah, tanpa diperselisihkan oleh para ulama adalah sah.” (Majmu’ Fatawa, XXV/203) c. Ketika Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya tentang puasa Arafah, apakah dilaksanakan berdasarkan rukyah di negeri tempat seseorang tinggal, ataukah rukyah di tanah haram, beliau menjawab — yang ringkasnya—hendaklah puasa dilaksanakan berdasarkan rukyah di negeri tempat seseorang tinggal. (Fatawa wa Rasail Ibni Utsaimin, XX/47-48 dan XIX/41) Pendapat ini diperkuat dengan realita belum majunya teknologi komunikasi dan transportasi pada masa Salaf. Pada masa mereka, perjalanan sehari hanya dapat menempuh jarak 40-50 km. Apabila rukyah penduduk Mekkah dikabarkan ke Madinah, maka kabar itu baru sampai pada tanggal 12 atau paling cepat 10 Dzulhijjah, karena jarak Mekkah- Madinah adalah 498 km. Maknanya, dapat dipastikan bahwa
Rasulullah saw pun melaksanakan
puasa Arafah berdasarkan rukyah
hilal penduduk Madinah, bukan
rukyah hilal penduduk Mekkah.
Wallahu a’lam. Author: Ust. Imtihan Asy-Syafi’i
Editor: A. Ahmad. [1] Penyebutan al-asyru (sepuluh) oleh Rasulullah adalah kiasan yang
maksudnya adalah sembilan hari awal
Dzulhijjah, seperti perkataan “Ia
beriktikaf sepuluh hari terakhir
Ramadhan” meskipun faktanya
kadang-kadang hanya sembilan hari. (Lihat Mura’atu Al-Mafatih Misykah Al-
Mashabih, VI/401[red])

About these ads

About adiebangga

Low Profile,. Passion,.. Respect,.. GO GREEN,.

Posted on November 5, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: